Wanita muslimah nikah, tapi walinya masih kafir ?

Pertanyaan: Ada seorang perempuan kafir yang masuk Islam kemudian seorang laki-laki muslim ingin menikahinya, apakah boleh ayah perempuan tadi yang masih kafir menjadi wali dalam akad nikahnya? Jika tidak boleh, maka siapa yang akan menjadi walinya?

Jawab: Tidak ada hak kewalian bagi orang kafir atas perempuan muslimah.  Jika seorang perempuan telah masuk Islam, maka tidak ada hak kewalian bagi ayahnya yang masih kafir untuk menikahkannya.  Adapun pertanyaan anda tentang seorang perempuan kafir yang masuk Islam: Bagaimana dia menikah? Dan siapa walinya?  Jawabannya adalah sebagai berikut: Jika perempuan tadi memiliki kerabat dekat dari pihak ayah (‘ashobah, seperti kakak laki-laki, dan pamannya,…) yang telah masuk Islam sebagaimana dia telah masuk Islam, maka dialah yang menjadi walinya (kakak laki-laki atau paman dari pihak ayah).  Jika perempuan tadi memiliki banyak kerabat dekat yang sudah masuk Islam, maka kerabat yang paling dekat hubungannya yang menjadi wali dalam pernikahannya.  Maka, kakak laki-lakinya yang muslim lebih utama menjadi walinya daripada pamannya yang muslim…  Jika dia tidak memiliki kerabat dari jalur ayah yang telah masuk Islam sebagaimana dia telah masuk Islam, dan dia tidak tinggal di negeri yang menerapkan Islam sebagaimana fakta pertanyaan, maka yang menjadi walinya adalah Qodli syar’iy yang muslim jika ada di negeri tersebut.  Dengan syarat dia adalah orang yang dapat dipercaya (ma’munan) yaitu orang yang mendorong/memberi semangat perempuan tadi dalam keislamannya dan tidak berhenti hanya semata masuk Islam, dan keluarganya yang masih kafir tidak akan memaksanya.  Jika tidak ada orang yang dapat dipercaya(ma’munan), maka boleh bagi orang yang mengislamkan (menjadikan dia Islam) untuk menjadi wali dalam pernikahan.  Atau dia (si perempuan) memilih seorang laki-laki muslim yang adil dan dia (si perempuan) mempercayai ketakwaannya, maka laki-laki tersebutlah yang menjadi wali dalam pernikahannya.  Dan baginya sempurnalah akad nikahnya  dari sisi syar’iy, kemudian suami melaksanakan perjanjian akad untuk memelihara hak-hak.

Dan untuk diketahui, maka sesungguhnya dalam kondisi ada pemerintahan Islam di negeri si perempuan, maka sulthonlah (penguasa) yang menjadi walinya setelah terputusnya kewalian dari jalur kerabatnya, berdasarkan sabda Rasulullah SAW: “Tidak ada pernikahan kecuali dengan adanya wali, dan penguasa (sulthon) adalah wali bagi siapa saja yang tidak memiliki wali”.  Hadist diriwatkan oleh Ahmad dari jalan Ibnu ‘Abbas dan ‘Aisyah Radliyallahu’anhum.  Dan sulthon lebih utama daripada Qodli (hakim)  dan orang-orang yang telah disebutkan(barusan) di atas

18 Ramadlan 1427 H

10/10/2006

About Villa Ilmu al Khair

Menuju Khairu Ummah

Posted on 22 Maret 2011, in Aturan Pergaulan, Soal Jawab. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: