Pendidikan Anak sejak Usia Tamyiz (7 tahun) hingga Baligh

Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari kiamat kelak diserulah anak-anak kaum Muslim, ‘Keluarlah kalian dari kubur kalian’.  Merekapun keluar dari kuburnya.  Lalu, mereka diseru, ‘Masuklah kedalam sorga bersama-sama’.  Seraya mereka berkata: ‘Duhai, Tuhan kami, apakah orang tua kami turut bersama kami?’  Hingga pertanyaan keempat kalinya menjawablah Dia, ‘Kedua orang tua kalian bersama kalian’.  Berloncatanlah setiap anak menuju ayah ibunya, memeluk dan menggandeng mereka, mereka memasukkan orang tuanya kedalam sorga.  Mereka lebih mengenal ayah dan ibu mereka pada hari itu melebihi pengenalan kalian terhadap anak-anak kalian di rumah kalian.”  (Kitab Nuzhah al-Majalis wa Muntakhib an-Nafais, ash-Shufuri, dikeluarkan oleh Abu Na’im dari jalan ath-Thabrani)

 

Pembinaan Anak Usia 7 hingga 10 Tahun

Pada rentang usia ini, secara emosi maupun sosial anak mengalami perubahan yang sangat signifikan dibanding tahap usia sebelumnya.  Usia  7 tahun mengindikasikan seorang anak yang mulai dapat membedakan baik dan buruk dan menilai sesuatu bermanfaat atau tidak untuk dirinya.  Dalam istilah fiqh pada usia ini dikenal dengan tamyiz. 

Dalam hukum syariat, seseorang yang dikatakan tamyiz memiliki kedudukan dan peran hukum tersendiri.  Beberapa diantaranya, ia dapat dilepaskan dari masa hadhonah (pengasuhan), sehingga ia diperbolehkan memilih orang tua yang hendak ia tinggali bersama, jika kedua orang tuanya berpisah.  Masa lepasnya seorang anak dari hadhonah menunjukkan bahwa anak sudah seharusnya bersikap mandiri, yaitu mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan ibu atau pengasuh lainnya.  Meski demikian, perwalian anak ersebut masih berada di tangan ayah hingga usianya baligh.

Rasulullah Saw. juga memerintahkan kepada anak usia 7 tahun ini untuk melaksanakan sholat, meski tidak dengan perintah yang tegas.  Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perintahkanlah anak-anakmu shalat pada umur tujuh tahun dan pukullah atas hal tersebut jika telah berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah mereka dari tempat tidurnya.

Laki-laki tamyiz juga memiliki kedudukan tersendiri dalam hukum menutup aurat bagi wanita.  Sebab, wanita hanya boleh memperlihatkan aurat kepada anak-anak yang belum mengerti aurat wanita, yaitu mereka yang belum tamyiz (QS A- Nuur : 31).  Ini artinya, laki-laki tamyiz dianggap sudah mengerti aurat wanita.

Secara sosial, pada umumnya usia 7 tahun merupakan masa usia sekolah dasar (dengan kurikulum yang lebih padat dibandingkan masa sebelumnya dan waktu belajar di sekolah yang lebih lama).  Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap penerimaan pendidikan di lingkungan keluarga.  Faktor lingkungan luar rumah juga sudah mulai banyak berpengaruh.

Melihat kedudukan yang cukup berarti dalam hukum syariat tersebut dan kondisi sosial yang dihadapi, perlu kiranya setiap muslim memperhatikan perkembangan anak pada usia ini.  Selanjutnya, harus dipersiapkan bentuk pendidikan yang sesuai dengan kondisinya tersebut.

 

Bentuk umum pendidikan

Pada fase usia tamyiz, proses pendidikan harus ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya.  Melihat kemandirian yang sudah mulai ada, metodenya pun dapat divariasikan mengikuti perkembangan kemampuan anak.  Secara umum bentuk pendidikan pasca tamyiz harus mengacu pada konsep umum pendidikan dalam Islam yaitu bertujuan untuk untuk membentuk manusia yang: (1) memiliki kepribadian Islam, (2) menguasai tsaqofah Islam, (3) menguasai ilmu pengetahuan (iptek) dan (4) memiliki ketrampilan yang memadai.

Dengan kerangka tersebut, maka sejak anak memasuki usia tamyiz (sekitar 7 tahun), anak harus diarahkan untuk :

1.       Penguatan pembentukan dan pengembangan kepribadian Islam.  Berikut bentuk pendidikan sebagaimana yang pernah diterapkan Rasulullah Saw.

a.       melakukan pembinaan aqidah dengan teknik yang sesuai dengan karakter aqidah Islam yang merupakan aqidah aqliyyah (aqidah yang muncul melalui proses perenungan pemikiran yang mendalam). Outputnya berupa aqidah yang lurus, cinta Allah dan Rasulullah Saw., dekat dengan Al Qur’an.

b.      mengajaknya untuk selalu bertekad menstandarkan aqliyyah dan nafsiyyahnya pada aqidah Islam yang dimilikinya.  Outputnya berupa pelaksanaan syariat Islam dalam perkara sederhana/pribadi, pembiasaan berakhlak mulia, terbiasa beribadah (sholat 5 waktu, puasa Ramadhan dan berdoa dengan standar syariah bukan sekedar ikut-ikutan), takut kepada murka Allah SWT.

c.       mengembangkan aqliyyah Islamnya dengan tsaqofah Islam dan mengembangkan nafsiyyah Islamnya dengan dorongan untuk menjadi lebih bertaqwa, lebih dekat hubungannya dengan Penciptanya, dari waktu ke waktu.

2.       Menguasai tsaqofah Islamiyyah.  Tsaqofah Islam ini dipelajari semata-mata karena dorongan untuk terikat pada Islam dalam kehidupannya, bukan pengetahuan belaka. Meski masih berusia 7 tahun, selayaknya anak sudah dikenalkan dengan tsaqofah Islamiyyah. Hal ini bertujuan agar anak sudah mulai memahami kerangka mengapa harus terikat dengan hukum syariat.  Karena itulah ia mulai diperkenalkan pada ilmu-ilmu tentang al qur’an, al hadits, bahasa Arab sederhana dan fiqh. Sejarah kebudayaan Islam juga perlu disampaikan kepada anak agar mulai memahami bentuk kehidupan Islam yang sesungguhnya, terutama kehidupan di masa Nabi Saw dan khulafaur rasyidin.  Orang tua selayaknya memperhatikan persoalan ini, terutama bila anak tidak disekolahkan di sekolah agama.

3.       Mengusai iptek.  Meski penguasaan iptek lebih dominan dilakukan di sekolah, selayaknya orang tua mengawal berjalannya proses tersebut.  Hal itu bisa dilakukan dengan menemani anak dalam mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan sain dan teknologi.  Tumbuhkan pula kecintaan terhadap ilmu dan semangat belajar yang tinggi.

4.       Penguasaan ketrampilan (life skill).  Meski di sekolah hal ini telah diajarkan, orang tua dapat berperanan lebih dalam membentuk kemampuan ketrampilan hidup bagi anak.  Misalnya, untuk anak perempuan mulai sertakan dalam tugas-tugas kerumahtanggaan.  Sementara bagi anak laki-laki diajarkan ketrampilan lain yang lebih menguras fisik, termasuk olah raga dan melatih jiwa kepemimpinan (siap memimpin dan dipimpin).

 

Fase tamyiz hingga baligh pada anak dapat dibagi dalam 2 (dua) periode yaitu :

1.       Periode usia 7 tahun hingga 10 tahun

2.       Periode 10 tahun hingga baligh.

Pembagian ini didasarkan pada adanya perbedaan perlakuan pada kedua periode tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw ketika mengajarkan anak-anak sholat.  Adapun ciri khusus. Berikut beberapa ciri bentuk pendidikan untuk anak pada periode usia 7 tahun hingga 10 tahun :

  • pengenalan kewajiban dalam bentuk pembiasaan terhadap kewajiban.
  • pemberian nasihat Islami disertai argumentasi syara’ secara sederhana
  • tidak memberikan sanksi fisik

Adapun untuk periode 10 tahun hingga baligh, pendidikan anak bercirikan :

  • pengajaran hukum-hukum Islam (Fiqih)
  • pemberian beban dan tanggung jawab
  • pemberian sanksi fisik (bila perlu) jika melanggar

 

Materi Pembinaan (kurikulum) bagi orang tua

Berdasarkan kedua ciri jenis pendidikan pada periode tersebut, dapat disusun kurikulum (materi pembinaan) berikut ini.

 

Usia 7 tahun hingga 10 tahun:

1.       Penguatan aqidah : memberikan kesadaran tentang siapa diri kita dan hakikat Sang Pencipta sehingga mampu memahami konsep dasar aqidah Islam.

a.       Menumbuhkan rasa takut kepada Allah SWT

b.      Menumbuhkan keyakinan akan pertolongan Allah SWT

c.       Mengkaitkan setiap yang dijumpainya dalam kehidupan dengan konsep aqidah Islam, tentang kekuasaan Allah SWT, sifat-sifat-Nya dan kelemahan manusia.

2.       Membangun keterikatan terhadap hukum syara’:

a.       Mengenalkan sumber-sumber hukum syara’ dengan mendekatkan anak kepada al-Qur’an dan As Sunnah.

b.      Mentarget anak untuk bisa membaca al Qur’an sebelum usia 10 tahun

c.       Menghafal beberapa hadits sesderhana

d.      Mengajarkan cara menulis al Qur’an.

e.      Mengajari dan membiasakan beribadah secara benar; berwudlu, sholat dan doa-doa harian, dan berpuasa.  Rasulullah Saw. bersabda : “Suruhlah nak-anakmu mengerjakan sholat pada usia 7 tahun dan pukullah mereka pada usia 10 tahun bila mereka tidak sholat, dan pisahkan mereka dari tempat tidurnya (laki-laki dan perempuan).” [HR. al-Hakim dan Abu Dawud].

f.        Melarang akhlak tercela seperti menggunjing, berdusta, mencela, menipu mencuri (QS Al Mumtahanah [60]:12), mengambil hak orang lain, suka pamer, sombong, dsb. Sebaliknya dibiasakan melakukan akhlak baik dengan bersikap jujur, sabar, meminta maaf dan gemar memaafkan, menghormati orang tua (QS Luqman [31]:14), qonaah, gemar bersyukur, bersikap sopan santun dalam berbicara dan bertingkah laku, dll. Rasulullah Saw bersabda:
“Apabila anak telah mencapai usia 6 tahun, maka hendaklah ia diajarkan adab dan sopan santun.” [HR. Ibnu Hibban].

g.       Membiasakan melafadzkan kalimah thayyibah; alhamdulillah, subhanallah, inna lillahi wa inna ilayhi raji’uun, Allahu akbar, la ilaah illallaah, insyaAllah, masyaAllah.

h.      Mengajarkan halal dan haram; dalam memilih makanan dan minuman, menggunakan benda apapun, dll

i.         Mengajarkan berthaharoh secara benar; mengetahui perkara najasah dan hadats kecil dan besar, membersihkan diri ketika buang air, adab di kamar kecil, membersihkan badan dan gigi secara baik.

j.        Belajar memilih aktivitas yang baik; tidak menonton film yang tidak Islami, bermain yang manfaat, mengisi waktu luang dengan banyak membaca dan menulis.

k.       Menanamkan persudaraan yang baik, kepada saudara kandung maupun teman-temannya; membiasakan salam, gemar berbagi (makanan), tidak menyakiti saudara dan teman.

3.       Menanamkan jiwa perjuangan

a.       Menceritakan kehidupan rasulullah Saw. dan para shahabat

b.      Menceritakan berbagai konflik di wilayah dan solusinya menurut Islam

c.       Menanamkan semangat membela dan memperjuangkan Islam

d.      Menanamkan keinginan menjadi mujahid

e.      Menanamkan semangat melawan kekufuran

4.       Membiasakan memberikan nasihat (secara verbal tanpa sanksi fisik) dengan menedepankan argumentasi syara’. Hukuman non fisik dapat berupa isolasi (dikurung dalam kamar selama sekian menit), dihapus hak istimewa (seperti di larang nonton TV selama sehari, atau dilarang bermain selama berapa lama) , peringatan, dan lain-lain. Anak akan menerima hukuman dengan lapang dada asal tidak dipermalukan, dibentak atau dikritik terlalu tajam.

5.       Dengan kemampuannya untuk mencerna suatu instruksi secara rasional, maka dianjurkan untuk menstimulasi nalar berfikirnya. Misalnya, mengajak berdiskusi tentang nilai benar dan salah, baik dan buruk. Juga perbedaan antara kebenaran menurut etika sosial dan secara agama. Misalnya, nilai benar dan salah dalam etika sosial adalah berdasarkan kesepakatan manusia. Sedang nilai benar dan salah secara Islam adalah berdasar wahyu Al Quran dan Hadits Nabi (menurut Syara’).

6.       Orang tua harus konsisten menjadi qudwah yang baik.

7.       Orang tua harus menjadi teman dan sahabat yang baik bagi anaknya karena mereka kini mulai memiliki banyak teman.  Jangan sampai kepercayaan pada orang tua luntur gara-gara anak lebih mempercayai temannya.  Memperbanyak diskusi dan memberikan kasih sayang da perhatian lebih dapat mendekatkan hubungan anak dan orang tua.

 

Untuk usia 10 tahun hingga baligh:

1.       Penguatan aqidah : melanjutkan yang sudah diberikan pada periode sebelumnya ditambah dengan pendetilan dalil-dalil, baik aqliy maupun naqliy.  Anak harus sudah mampu meyakinkan dirinya mengapa memilih Islam bukan aqidah atau agama yang lain.

2.       Memahamkan tentang identitas dirinya.

a.       Mengetahui visi dan misi hidupnya

b.      Menumbuhkan kebanggaan sebagai muslim

c.       Memahami harapan orang tua kepada anak

d.      Memiliki cita-cita dan berupaya merealisasikannya

e.      Terdorong menjadi manusia mulia sebagaimana generasi Islam terdahulu.

3.       Memahamkan konsep baligh.

4.       Memberikan pemahaman dan pelaksanaan beberapa hukum syara’ seperti kewajiban menutup aurat dan berpakaian menurut syara’, meminta ijin memasuki rumah, menundukkan pandangan, tentang mahram, khalwat, ikhtilat, tabarruj dan etika berhias, rasa malu, dsb.

5.       Menanamkan jiwa maskulinitas kepada anak laki-laki dan femininitas kepada anak perempuan.

a.       Tidak berpakaian menyerupai pakaian jenis kelamin yang lain.

b.      Memisahkan diri dari kelompok jenis kelamin yang berbeda

c.        Lebih menyukai aktivitas sesuai tabiat jenis kelaminnya.

6.       Lebih mendisiplinkan pelaksanaan ibadah khususnya yang wajib, bukan sekedar kebiasaan namun sudah disertai dengan kesadaran atas wajibnya aktivitas tersebut.

7.       Memahamkan tanggung jawab

a.       Jelaskan konsekuensi semua perbuatan manusia baik secara syara maupun secara langsung bagi dirinya.

b.      Melatih tanggung jawabnya, misal dengan beberapa tugas baik dalam rumah tangga maupun bersama lingkungannya

c.       Menanamkan rasa senang bertanggung jawab dan tidak merasa terbebani.

d.      Memahamkan kepada siapa seharusnya anak-anak berkomunikasi dalam menyelesaikan persoalannya.

8.       Mengarahkan pertimbangan dalam memilih sebuah urusan/sesuatu

a.       Tanamkan konsep halal dan haram dalam pertimbangan memilih sesuatu

b.      Jelaskan kedudukan maslahat dalam Islam

c.       Mendudukkan rasa suka dan tidak suka di hadapan perkara baik dan buruk

d.      Mengetahui konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.

9.       Melatih kedisiplinan anak. Berikut beberapa langkah untuk memudahkan proses pendisiplinan anak.

a.       Buat aturan yang jelas. Apa yang boleh dan tidak boleh. Yang baik dan tidak baik. Plus cantumkan juga sanksi atas pelanggaran yang dilakukan. Tanpa itu mana mungkin anak tahu perbuatan yang melanggar dan tidak.

b.      Tulis aturan-aturan tersebut di kertas karton. Kalau perlu minta si anak yang menulis. Tempel di dinding rumah di posisi yang paling menyolok. Saat anak melanggar salah satu aturan, bawa anak ke depan tulisan dan ingatkan aturan mana yang dilanggar.

c.       Buat sanksi yang logis dan masuk akal. Buat sangsi yang relevan dan mendidik. Sangsi hendaknya berbeda-beda sesuai pelanggaran. Contohnya, apabila anak tidak hormat pada yang lebih tua, hukumannya berupa menulis surat permohonan maaf pada yang bersangkutan. Apabila tidak salat fardhu, harus mengulangi salat plus shalat sunnah, dan seterusnya. Usahakan sanksinya tidak terlalu keras sehingga mudah diberlakukan.  Memukul bisa diberlakukan jika anak tidak mau shalat asal tidak dengan pukulan yang berbekas dan menyakitkan.

d.      Konsisten. Orang tua harus konsisten memperhatikan dan memberlakukan peraturan dan sanksi yang dibuat. Tanpa itu, aturan dan pembuat aturan, yakni orang tua, tidak akan mendapat respek dari anak.

10.   Melanjutkan penanaman jiwa pejuang

a.       Perbanyak diskusi tentang persoalan umat dan solusinya yang hakiki

b.      Dorong anak untuk menjadi bagian dari umat yang terpilih untuk melakukan perubahan di masyarakat yang rusak

c.       Perkenalkan aktivitas perjuangan yang dilakukan orang tua

d.      Libatkan anak dalam aktivitas perjuangan orang tua sehingga mereka menerima aktivitas seperti itulah yang harus dijalani dalam kehidupannya mendatang.

e.      Berikan pengharapan yang besar atas perjuangan yang dilakukan baik kebaikan di dunia maupun di akhirat.  Ini bertujuan agar anak tidak merasa capek, bosan dan mundur dari keterlibatan perjuangan.

f.        Berikan penghargaan setiap kali anak mampu terlibat dalam perjuangan beserta orang tua.

 

Penutup

Demikian beberapa panduan teknis pendidikan dan pembinaan anak sejak anak tamyiz hingga menjelang usia baligh sehingga mereka siap memasuki usia baligh dalam keadaan terikat hukum syariat dan siap menjadi pembela Islam.

About Villa Ilmu al Khair

Menuju Khairu Ummah

Posted on 22 Juli 2011, in Keluarga Sakinah, Pendidikan Anak. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Alhamdulillah. Tulisan yang sangat bermanfaat untuk kemashlahatan Islam dan Ummatnya. Izin share ya…Syukron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: