KHILAFAH ISLAMIYYAH DI MATA ULAMA EMPAT MADZHAB

Kewajiban Menegakkan Khilafah Islamiyyah

Pada dasarnya, para ulama empat madzhab tidak pernah berselisih pendapat mengenai kewajiban mengangkat seorang Imam atau Khalifah yang bertugas melakukan tugas ri’ayah suunil ummah (pengaturan urusan umat).

 

Imam Qurthubiy, seorang ulama besar dari madzhab Malikiy, ketika menjelaskan tafsir surat Al Baqarah ayat 30, menyatakan, “Ayat ini merupakan dalil paling asal mengenai kewajiban mengangkat seorang imam atau khalifah yang wajib didengar dan dita’ati, untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan hukum-hukum khalifah. Tidak ada perselisihan pendapat tentang wajibnya hal tersebut di antara umat Islam maupun di kalangan alim ulama, kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sham..” [Al Imam Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farah Al Qurthubi, Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an, Juz 1 hal, 264-265]

‘Allamah Abu Zakaria An Nawawiy, dari kalangan ulama madzhab Syafi’iy dalam Kitab Syarah Muslim mengatakan, “”Mereka (imam madzhab) telah bersepakat, bahwa kaum Muslim wajib mengangkat seorang khalifah.” [Imam Nawawiy, Syarh Shahih Muslim, juz 12, hal. 205] Ulama lain dari madzhab Syafi’iy, Imam al-Mawardiy, dalam kitab al-Ahkaam al-Sulthaniyyah menyatakan, “”Menegakkan Imamah di tengah-tengah umat merupakan kewajiban yang didasarkan pada ijma’ shahabat..“[Imam al-Mawardiy, al-Ahkaam al-Sulthaaniyyah, hal. 5]

 

Imam ‘Alauddin al-Kasaniy, seorang ulama besar dari madzhab Hanafiy menyatakan, “...Dan sesungguhnya mengangkat imam agung  itu adalah fardhu.  Tidak ada perbedaan pendapat di antara ahlul haq mengenai masalah ini. Penyelisihan oleh sebagian kelompok Qadariyyah mengenai masalah ini sama sekali tidak bernilai; karena persoalan ini telah ditetapkan berdasarkan ijma’ shahabat ra atas perkara itu, serta kebutuhan umat Islam terhadap imam yang agung tersebut; serta demi keterikatan dengan hukum; dan untuk menyelamatkan orang yang didzalimi dari orang yang dzalim; memutuskan perselisihan yang menjadi sumber kerusakan, dan kemaslahatan-kemaslahatan lain yang tidak akan terwujud kecuali dengan adanya imam…” [Imam ‘Alauddin Al-Kassani Al Hanafi, Bada’iush Shanai’ fii Tartibis Syarai’, juz 14 hal. 406]

 Imam Umar bin Ali bin Adil Al Hanbaliy, seorang ulama madzhab Hanbaliy menyatakan,”… Ayat ini (Al Baqarah:30) adalah dalil wajibnya mengangkat imam dan khalifah yang wajib didengar dan dita’ati, untuk menyatukan pendapat, serta untuk melaksanakan hukum-hukum tentang khalifah. Tidak ada perbedaan tentang wajibnya hal tersebut diantara para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sham dan orang yang mengikuti dia…” [Imam Umar bin Ali bin Adil Al Hanbali Ad Dimasyqi, Tafsirul Lubab fii ‘Ulumil Kitab,  juz 1 hal 204].  Imam Ahmad bin Hanbal dalam sebuah riwayat yang dituturkan oleh Mohammad bin ‘Auf bin Sofyan al-Hamashiy, menyatakan, “Fitnah akan muncul jika tidak ada imam yang mengatur urusan manusia.”[Abu Ya’la al-Farra’iy, al-Ahkaam al-Sulthaaniyyah, hal.19]

Imam Abu Muhammad Ali bin Hazm Al Andalusi Adz Dzahiri dari madzhab Dzahiri menyatakan, “ ..Para ulama sepakat bahwa imamah itu fardhu, dan keberadaan seorang imam itu merupakan  suatu keharusan, kecuali An Najdat. Pendapat mereka benar-benar telah menyelisihi ijma’ dan pembahasan mengenai mereka telah dijelaskan sebelumnya. Mereka (para ulama’) sepakat bahwa tidak boleh ada dua imam bagi kaum Muslim pada satu waktu di seluruh dunia baik mereka sepakat atau tidak, baik mereka berada di satu tempat atau di dua tempat…” [Imam Abu Muhammad Ali bin Hazm Al Andalusi Adz Dzahiri, Maratibul Ijma’ , juz 1 hal 124]

Ditempat lain, Imam Ibnu Hazm dalam kitab al-Fashl fi al-Milaal wa al-Ahwaa’ wa al-Nihaal mengatakan, “Mayoritas Ahlu Sunnah, Murji’ah, Syi’ah, dan Khawarij bersepakat mengenai wajibnya menegakkan imamah (khilafah).  Mereka juga bersepakat, bahwa umat Islam wajib mentaati imam adil yang menegakkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah mereka dan memimpin mereka dengan hukum-hukum syariat yang dibawa Rasulullah saw.” [Ibnu Hazm, al-Fashl fi al-Milaal wa al-Ahwaa’ wa al-Nihaal, juz 4, hal. 87]

 

Menegakkan Khilafah Islamiyyah Termasuk Upaya Mendekatkan Diri Kepada Allah (Taqarrub Ila al-Allah) yang Paling Agung

Upaya menegakkan Khilafah Islamiyyah termasuk aktivitas taqarrub ila al-Allah (mendekatkan diri kepada Allah) yang paling agung.  Syaikhul Islam Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan:

فالواجب اتخاذ الإمارة ديناً وقربة يتقرب بها إلى الله ؛ فإن التقرب إليه فيها بطاعته وطاعة رسوله من أفضل القربات

“Yang wajib adalah menjadikan kepemimpinan (imarah) sebagai bagian dari agama dan sarana untuk bertaqarrub kepada Allah.  Taqarrub kepada Allah dalam hal imarah (kepemimpinan) yang dilakukan dengan cara mentaati Allah dan RasulNya adalah bagian dari taqarrub yang paling utama….”[1]

 

          ‘Allamah Ibnu Hajar al-Haitamiy menyatakan;

اعلم أيضا أن الصحابة رضوان الله تعالى عليهم أجمعين أجمعوا على أن نصب الإمام بعد انقراض زمن النبوة واجب بل جعلوه أهم الواجبات حيث اشتغلوا به عن دفن رسول الله واختلافهم في التعيين لا يقدح في الإجماع المذكور

 

“Ketahuilah juga, sesungguhnya para shahabat ra seluruhnya telah sepakat bahwa mengangkat seorang Imam (Khalifah) setelah berakhirnya masa kenabian adalah wajib.  Bahkan, mereka telah menjadikan kewajiban ini (nashbu al-imaam) sebagai kewajiban yang paling penting.  Pasalnya, para shahabat lebih menyibukkan diri dengan perkara ini (nashbu al-imam) dibandingkan mengurusi jenazah Rasulullah saw.  Perselisihan mereka dalam hal penentuan (siapa yang berhak menjadi imam) tidaklah merusak ijma’ yang telah disebutkan tadi..”[Imam Ibnu Hajar al-Haitamiy, Ash Shawaa’iqul Muhriqah, Juz 1, hal. 25]

 

 

Tegaknya Khilafah Adalah Janji Allah

          Ulama empat madzhab juga telah menyatakan bahwa tegaknya Khilafah Islamiyyah adalah janji Allah swt kepada orang-orang Mukmin.   Pasalnya, Al Quran telah menyebutkan janji ini (tegaknya kekhilafahan Islam) dengan jelas dan gamblang.  Allah swt berfirman;

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa..”[TQS An Nuur (24):55]

          Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat di atas, menyatakan;

هذا وعد من الله لرسوله صلى الله عليه وسلم  . بأنه سيجعل أمته خلفاء الأرض، أي: أئمةَ الناس والولاةَ عليهم، وبهم تصلح البلاد، وتخضع لهم العباد، ولَيُبدلَنّ بعد خوفهم من الناس أمنا وحكما فيهم، وقد فعل تبارك وتعالى ذلك.

 “Ini adalah janji dari Allah swt kepada Rasulullah saw, bahwasanya Ia akan menjadikan umat Nabi Mohammad saw sebagai Khulafaa’al Ardl; yakni pemimpin manusia dan pelindung mereka. Dengan merekalah (khulafaa’) akan terjadi perbaikan negeri, dan seluruh hamba Allah akan tunduk kepada mereka….”[Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Juz 6, hal. 77]

          Imam Thabariy, di dalam Tafsir ath Thabariy menyatakan;

 

ليورثنهم الله أرض المشركين من العرب والعجم، فيجعلهم ملوكها وساستها( كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ) يقول: كما فعل منْ قبلهم ذلك ببني إسرائيل، إذ أهلك الجبابرة بالشأم، وجعلهم ملوكها وسكانها

Sungguh, Allah akan mewariskan bumi kaum Musyrik dari kalangan Arab dan Non Arab kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.  Dan sungguh, Allah akan menjadikan mereka sebagai penguasa dan pengaturnya..”[Imam Thabariy, Tafsir Ath Thabariy, Juz 19, hal. 208]

          Janji agung ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh pada generasi shahabat belaka, namun berlaku sepanjang masa bagi orang-orang Mukmin yang beramal sholeh.   Imam Syaukani, di dalam Kitab Fath al-Qadir berkata;

وهذا وعد من الله سبحانه لمن آمن بالله وعمل الأعمال الصالحات بالاستخلاف لهم في الأرض لما استخلف الذين من قبلهم من الأمم ، وهو وعد يعم جميع الأمة . وقيل : هو خاص بالصحابة ، ولا وجه لذلك ، فإن الإيمان وعمل الصالحات لا يختص بهم ، بل يمكن وقوع ذلك من كل واحد من هذه الأمة

 

“Ini adalah janji dari Allah swt kepada orang yang beriman kepada Allah dan melaksanakan amal sholeh tentang kekhilafahan bagi mereka di muka bumi;sebagaimana Allah pernah mengangkat sebagai penguasa orang-orang sebelum mereka.  Ini adalah janji yang berlaku umum bagi seluruh generasi umat.  Ada yang menyatakan bahwa janji ini hanya berlaku bagi shahabat saja.  Sesungguhnya, pendapat semacam ini tidak memiliki dasar sama sekali.  Alasannya, iman dan amal sholeh tidak hanya khusus bagi shahabat saja, namun hal ini bisa saja dipenuhi oleh setiap generasi dari umat ini..”[Imam Syaukaniy, Fath al-Qadiir, Juz 5, hal. 241]

          Dari uraian para ulama di atas dapat disimpulkan bahwa tegaknya Khilafah Islamiyyah adalah janji Allah swt.   Ini berarti bahwa Khilafah Islamiyyah pasti akan ditegakkan oleh Allah swt.  Seorang Muslim wajib mengimani bahwa Khilafah Islamiyyah pasti akan tegak kembali.  Seorang Muslim tidak diperkenankan sama sekali menyatakan bahwa perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah adalah perjuangan utopis, khayalan, mustahil, romantisme sejarah, dan lain sebagainya.   Pasalnya, pernyataan-pernyataan semacam itu merupakan bentuk pengingkaran dan peraguan terhadap janji Allah swt.  Dan barangsiapa mengingkari dan meragukan janji Allah maka ‘aqidahnya telah rusak dan binasa.  Al-Quran telah menyatakan dengan sharih, bahwa janji Allah swt pasti ditunaikan.  Allah swt berfirman;

السَّمَاءُ مُنْفَطِرٌ بِهِ كَانَ وَعْدُهُ مَفْعُولًا

“Langit (pun) menjadi pecah belah pada hari itu karena Allah. Adalah janji-Nya itu pasti terlaksana”.[TQS Al Muzammil ():18]

لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.[TQS Ar Rum (30):6]

Lantas, mengapa kita tidak bersegera melibatkan diri dalam perjuangan yang penuh keagungan dan keberkahan ini?

Benar, perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah merupakan perjuangan penuh keagungan dan keberkahan.  Pasalnya, ini adalah perjuangan yang direstui dan dinyatakan oleh para alim ulama mu’tabar dan dinaungi oleh janji Allah swt, dan keberhasilannya menjadi sebab tertegaknya hukum-hukum Allah swt secara syamil, kamil, dan mutakamil. Wallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thariq.


[1] Imam Ibnu Taimiyyah, al-Siyasah al-Syar’iyyah, hal. 161.

About Villa Ilmu al Khair

Menuju Khairu Ummah

Posted on 4 Juli 2012, in Tsaqafah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: